Archive for the ‘My and my friends' articles’ Category
Memakan produk sebelum dibayar di Supermarket, bolehkah?
Saturday, May 30th, 2009Saat kita berbelanja di hypermarket/supermarket, kadang kadang kita tergoda untuk memakan/mengkonsumsi makanan/muniman yang akan kita beli. Jika kita bersama anak kecil, mungkin mereka meminta untuk segera membuka kemasan dan mengkonsumsi? Bolehkah ini dilakukan?
Pihak hypermarket/supermarket tentu menyarankan konsumen untuk membayar dahulu baru mengkonsumsi. Hal ini untuk menghindari konsumen yang “lupa” membayar setelah mengkonsumsi dan meninggalkan kemasan begitu saja di dalam supermarket. Kerugian yang dialami retailer untuk hal semacam ini lumayan banyak, bisa mencapai 0,1 sd 0,2 persen dari penjualan, nilai yang cukup besar jika dilihat dari besarnya Rupiah.
Namun, dengan luasnya area supermarket atau hypermarket, hampir tidak mungkin untuk mengkontrol seluruh konsumen. Upaya yang dilakukan adalah dengan menempelkan himbauan untuk membayar dahulu, memasang CCTV dan menempatkan petugas kemanaan yang berkeliling area supermarket. Mengkonsumsi makanan (jika tidak bayar) jelas adalah bentuk pencurian dan dapat diproses secara hukum.
Nah, dapatkah petugas keamanan menangkap konsumen yang sedang mengkonsumsi produk di dalam supermarket? Jawabannya adalah: tidak!
Tindakan mengkonsumsi tersebut bukanlah suatu bukti awal yang cukup kuat untuk dilakukannya tindakan pencegahan/penangkapan. Konsumen tersebut baru bisa ditindak jika sudah menyelesaikan transaksi dan melangkah keluar area supermarket tanpa membayar produk yang dikonsumsi di dalam supermarket tadi. Pihak keamanan di dalam supermarket tau pasti bahwa mereka bisa mendapat tuntutan balik jika memberikan tuduhan kepada konsumen di dalam supermarket, karena belum ada bukti bahwa konsumen “tidak membayar” produk tersebut.
Jadi cukup jelas bahwa mengkonsumsi produk di dalam supermarket tidak akan mengakibatkan tindakan apapun oleh pihak supermarket. Namun bagi kita sebagai konsumen, harus berhati-hati untuk tidak lupa membayar produk yang sudah dikonsumsi tadi, karena bisa jadi pihak keamanan memantau dan langsung mengambil tindakan setelah kita terbukti tidak membayar saat keluar dari supermarket.
Paparan ini hanyalah sharing dari sisi operasional suatu ritel. Namun tentu alangkah baiknya jika kita bisa disiplin mengkonsumsi setelah produk dibayar, untuk menghindari lupa dan memberikan contoh yang baik untuk anak-anak kita dan orang lain di sekitar kita.
Salam Inspirasi!
Kurniawan Santoso, Kelapa Gading 30 May 2009
Too much POP?
Wednesday, May 14th, 2008Retail Best Practices:
Salah satu sarana penunjang display di supermarket adalah POP (Point of purchase) materials. POP ini berfungsi untuk menonjolkan item produk tertentu yang sedang dipromosikan, atau item produk baru, atau produk termurah dan sebagainya.
Pemasangan POP yang tepat akan sangat membantu konsumen dalam proses pengambilan keputusan membeli produk. Kita tahu bahwa ada sangat banyak sekali jenis produk dalam satu kategori, sementara rata rata setiap konsumen hanya memiliki waktu belanja yang pendek. Hasil survey menunjukkan bahwa pelanggan melewati 500 sku dalam 5 detik!
Sangat penting juga POP ini untuk menarik minat konsumen membeli sesuatu yang mungkin tidak direncanakan sebelumnya (impulse buying). Sebagaimana kita ketahui bahwa kurang dari 40% pelanggan yang membawa daftar belanja.
Take Home pay vs Basic Salary
Tuesday, March 18th, 2008By kurniawan santoso
Sore ini ada percakapan menarik di kantor, ketika ada teman yang membandingkan enakan mana jadi Presiden atau Presiden Direktur. Secara “Basic Salary”, tentu saja presiden direktur perusahaan multinasional atau BUMN lebih tinggi disbanding “Basic Salary” seorang presiden. Namun jangan ditanya mengenai “Take Home Pay”, karena seorang walikota pun bisa memiliki Take Home Pay yang lebih besar dibanding Presiden Direktur BUMN!
Did You Know: Where to find Indomie in Sydney?
Sunday, March 16th, 2008Noodle is certainly one of the most favorite foods for Indonesian people. Its very simple to cook a cup of noodle. No need special expertise, and it is cheap. Actually, as the main food of Indonesian is rice, noodle is just a complimentary. But as its can give the feeling of “full” after eating it, then many people start enjoying noodle as substitute of rice.
For those who live outside Indonesia consuming noodle also one of the trick to less spend on food, as ordinary food is expensive, especially for students who have only limited budget. But, it is hard to find noodle, especially Indonesian made noodle. Not so many that can be brought when they just came back from Indonesia.




