Too much POP?
Retail Best Practices:
Salah satu sarana penunjang display di supermarket adalah POP (Point of purchase) materials. POP ini berfungsi untuk menonjolkan item produk tertentu yang sedang dipromosikan, atau item produk baru, atau produk termurah dan sebagainya.
Pemasangan POP yang tepat akan sangat membantu konsumen dalam proses pengambilan keputusan membeli produk. Kita tahu bahwa ada sangat banyak sekali jenis produk dalam satu kategori, sementara rata rata setiap konsumen hanya memiliki waktu belanja yang pendek. Hasil survey menunjukkan bahwa pelanggan melewati 500 sku dalam 5 detik!
Sangat penting juga POP ini untuk menarik minat konsumen membeli sesuatu yang mungkin tidak direncanakan sebelumnya (impulse buying). Sebagaimana kita ketahui bahwa kurang dari 40% pelanggan yang membawa daftar belanja.
Contoh pemasangan POP:
Namun ada kalanya konsep ini diterapkan dengan tidak semestinya: POP terlalu banyak!! Walhasil konsumen justru akan bingung dan mengabaikan POP. Untuk itu sebaiknya ditetapkan jumlah maksimal POP dalam satu bay/gondola, 2 atau 3 maksimal.
Semoga bermanfaat.
Kurniawan Santoso (kurniawansatoso.com)
Contoh POP yang terlalu banyak:
Contoh POP “As in Catalog”:

Contoh POP Consumer Promo:

Contoh POP New Product:

Cntoh POP Shelve Vision:






4 Responses to “Too much POP?”
By jusman on May 22, 2008 | Reply
Wakakaka…. yang terlalu banyak kok ngambil dari Supermarket PAHLAWAN sih? Cuma pahlawan aja ya yang spt itu? Kurang koordinasi…
By rudy on Aug 24, 2008 | Reply
Dear Mas kurniawan,
Yah benar POP adalah sangat penting dan merupakan sarana komunikasi yang menjembatani antara pihak retail dan customer.
Namun terkadang tidak kita sadari dengan banyaknya POP justru akan membuat ambigu dan kebingungan diantara customer, promosi menjadi tidak fokus dan akhirnya akan maerusak atribut toko sendiri, mau ke arah tematik promo kita, dan apakah sesuai dengan konsep awal bisnis retail kita?
Sebagai seorang yg berkerja di retail, saya juga sering memperhatikan bentuk2 komunikasi yg ada di toko. Sebenarnya konsep POP harus sederhana dan simple, tidak terlalu “ngejelimet”, yg pada akhirnya akan memusingkan konsumen. Teradang kita tidak menyadari siapa si sasaran akhir konsumen kita, karakteristik nya bagaimana?… Pendidikan gimnana?… Sehingga Bahasa dalam komunikasi, bentuk, ukuran, dan estetika dalam menciptakan, sekaligus pengaplikasian POP di dalam toko sangat penting.
Saya rasa itu komentar dari saya.
Mohon maaf jika ada salah persepsi.
Terima kasih.
Rudy
By Kurniawan Santoso on Sep 4, 2008 | Reply
Pak Rudy, thanks commentnya.
Betul sekali pak, saya setuju dengan pemikiran Bapak yang “think globally, act locally”. Adanya POP harusnya bertujuan untuk “memudahkan” konsumen menentukan pilihan, bukan sebaliknya.
Bagi kita yang bergerak di bidang Ritel, sebenarnya ada agenda “tersembunya”, yaitu bagaimana kita highlight produk-produk yang memiliki margin tinggi, disamping menonjolkan produk yang sedang promosi. Dua arah pak, memuaskan supplier sekaligus meningkatkan keuntungan kita.
Betul kan pak??
Salam,
By hanif on Sep 30, 2008 | Reply
anda salah pak, yang gambar no 5 itu buka pop. itu namanya selftalker, karena sarana promosi di ritel khususnya modern,POP itu lebuh identik darana promosi yang di dalamnya terdapat informasi harga(dalam bentuk apapun), yapi saya setuju pop tidak perlu terlalu banyak, yang penting menarik dan informatif,
Mohon maaf bukan menggurui hanya share sedikit pengetehuan saja.
Wassalam
Hanif.,