Its all about Key Account Management
www.kurniawansantoso.com

Aqua Aksi in conjuction with Dunia Presinutri

presinutri

Aqua Wahana Kebaikan Alam

Retail Trend 2010 by Peter Fisk

Retail Trends 2010 by Peter Fisk

http://www.slideshare.net/geniusworks/retail-trends-2010-by-peter-fisk

Unilever agrees to buy Sara Lee brands

By David Jones

LONDON (Reuters) - Consumer goods giant Unilever agreed to pay 1.275 billion euros (1.2 billion pounds) for Sara Lee’s (SLE.N) personal care brands like Sanex and Radox on Friday to reinforce its global lead in deodorants and skin cleansing.

The Anglo-Dutch Unilever (ULVR.L) (UNc.AS) is buying a business with 85 percent of its sales in Europe, while Sara Lee will now look to sell its household goods business separately as it launched a $1 billion (624 million pounds) share buyback programme.

The deal marks the first major acquisition for Unilever’s new Chief Executive Paul Polman, while Sara Lee’s CEO Brenda Barnes is now half-way through a planned sell-off of non-core business aimed at focussing the U.S. group on food and drink.

“The Sara Lee brands enjoy strong consumer recognition, offer significant growth potential and are an excellent fit with Unilever’s existing business,” said Polman in a statement.

Unilever says Sanex, Radox and also Duschdas brands will complement its Dove, Axe and Rexona at slightly lower prices and strengthen its European business in key markets such as Britain, the Netherlands, Germany, France, Spain, Italy and Denmark.

Sara Lee said the brands sold accounted for 55 percent of the profits from its businesses up for sale, and added it had seen significant interest in its household brands including Ambi Pur air fresheners, Kiwi shoe polish, Vapona insecticides and its non-European cleaning brands.

“We intend to use proceeds from the divestiture to invest for growth in our core business and to repurchase stock,” Barnes said in a Sara Lee statement.

The U.S. group also reiterated it intended to maintain its current quarterly dividend of 11 cents for the next four quarters regardless of the timing of disposals.

Unilever shares were flat at 17.36 pounds by 11:23 a.m. in a slightly firmer UK stock market.

Credit Suisse analyst Charlie Mills said the price Unilever is paying of 10 times core operating profit, or EBITDA, is not huge by industry standards which reflects the fairly disparate collection of assets which also include Brylcream hair gel.

“We’re not convinced that this is the greatest collection of assets but another acquisition shows Unilever still moving from the back foot (cost cutting and disposals) to the front foot (volume growth and acquisitions),” he said.

Sara Lee put its household and personal care business up for sale earlier this year, and it was expected by analysts to break up the wide-ranging business to make a sell-off easier.

The Sara Lee brands being acquired by Unilever generated annual sales in excess of 750 million euros with EBITDA of 128 million euros for the year ending June 2009. The overall Sara Lee business up for sale had annual sales of 1.5 billion euros.

The deal is subject to regulatory approval and consultation with European employee works councils.

(Reporting by David Jones; Editing by Jon Loades-Carter)

Hipermarket rampas pasar ritel kecil?

JAKARTA: FE UI menyatakan perampasan pasar (market spoiler) yang ditimbulkan hipermarket menyebabkan dampak lebih signifikan berupa kebangkrutan ritel lokal dan pedagang kecil.

“Dampak kehadiran hipermarket yang mengandalkan harga murah [untuk merebut pasar] di satu daerah hanya mampu membuka lapangan kerja satu orang, tapi membuat 1,5 toko lokal dan pedagang kecil menurun bisnisnya. Jadi telah terjadi kekeliruan sistematik dari pemerintah daerah,” kata peneliti ritel Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI) Rizal Halim pekan lalu.

Menurut dia, terdapat dua kemungkinan yang ditimbulkan dari kehadiran hipermarket, yaitu toko lokal atau warung yang tutup atau peritel skala kecil mengurangi karyawannya karena omzetnya berkurang.

Tim peneliti ritel FE UI lebih mengkhawatirkan kelangsungan bisnis ritel lokal dan warung, mengingat saat ini belum ada regulasi yang membatasi ekspansi toko modern di lebih dari 400 kabupaten/kota, mengingat baru pemda Sragen yang baru memiliki perda perpasaran.

Sementara itu, katanya, ada kekeliruan sistematik yang menakar keberadaan hipermarket menjadi ikon pembangunan suatu daerah. Pemerintah daerah cuma melihat pembangunan daerahnya melalui kehadiran bangunan yang megah, tapi tidak memperhatikan dampak yang ditimbulkan.

“Kami akan meneliti lebih rinci untuk membuktikan dampak lebih besar yang ditimbulkan dari kehadiran hipermarket yang memiskinkan sekitarnya,” jelas Rizal.

Macetkan jalan

Dari pengamatan FE UI, selain bisnis ritel lokal dan pewarung yang tergerus, kehadiran hipermarket juga merugikan penduduk sekitar yang mengeluarkan biaya lebih banyak untuk membeli bahan bakar kendaraan, akibat macetnya jalan karena kehadiran toko skala besar itu.

Rizal juga tidak menyetujui jika persaingan toko modern dan pasar tradisional di Indonesia dibandingkan dengan Singapura. Hal ini mengingat pedagang di pasar tradisional serta toko lokal yang ada di negara itu juga punya kemampuan modal yang setara dengan merek toko modern berjaringan di sekitarnya.

Tim peneliti ritel FEUI mendesak pemerintah dan daerah untuk membuat regulasi sektor ritel yang mengutamakan kepentingan orang lebih banyak, yaitu toko lokal dan pedagang kecil ketimbang gerai berjaringan.

“Apalagi induk dari seluruh peraturan di Indonesia adalah UUD 1945 yang menegaskan harus ada keberpihakan pada hajat hidup orang banyak,” jelas Rizal.

Rizal mengatakan peraturan tersebut harus berupa pengaturan zonasi. Di samping itu pemerintah berkewajiban membenahi lokasi dengan memindahkan toko modern, yang menyebabkan kerugian besar bagi pebisnis kecil di sekitarnya.

Mengingat UUD 1945 menegaskan kebijakan tidak bisa hanya berlandaskan pada kepentingan bisnis, melainkan harus lebih berdasarkan kepentingan masyarakat. (linda.silitonga@bisnis. co.id)

Oleh Linda T. Silitonga
Bisnis Indonesia